Di LP, Mantan ’’Budak’’ Narkoba Menjadi Santri

BANGKINANG (RIAUPOS.CO) - Puluhan narapidana narkoba Lapas Klas IIB Bangkinang kini menjadi santri. Program yang bernama BAIAT untuk para napi tersebut digagas oleh Bupati Kampar Jefry Noer. Bermula dari pembangunan Masjid At-Taubah yang bisa menampung jamaah sekitar 500 orang di dalam komplek lapas. Lalu Jefry kemudian menggandeng Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) membikin program Bimbingan Agama Islam Aplikasi Terintegrasi (BAIAT). ‘’Salah satu pengajarnya adalah DR Amri Darwis,’’ cerita Agus. Sejak akhir tahun lalu, program ini resmi berjalan. Tiap hari Rabu dari pukul 10:00 WIB hingga azan Zuhur, warga binaan dicekoki pengajian. Termasuk cara berwudhu, belajar mengaji dari Juz Ammah hingga Alquran. Salah seorang napi yang menjadi santri bernama Pardianto. Lelaki 38 tahun itu sudah bisa melupakan rumah, tanah dan segala perlengkapan rumah yang ludes demi memenuhi butiran kristal bernama sabu-sabu itu. Dan laj
Di LP, Mantan ’’Budak’’ Narkoba Menjadi Santri

BANGKINANG (RIAUPOS.CO) - Puluhan narapidana narkoba Lapas Klas IIB Bangkinang kini menjadi santri. Program yang bernama BAIAT untuk para napi tersebut digagas oleh Bupati Kampar Jefry Noer. Bermula dari pembangunan Masjid At-Taubah yang bisa menampung jamaah sekitar 500 orang di dalam komplek lapas. Lalu Jefry kemudian menggandeng Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) membikin program Bimbingan Agama Islam Aplikasi Terintegrasi (BAIAT). ‘’Salah satu pengajarnya adalah DR Amri Darwis,’’ cerita Agus. Sejak akhir tahun lalu, program ini resmi berjalan. Tiap hari Rabu dari pukul 10:00 WIB hingga azan Zuhur, warga binaan dicekoki pengajian. Termasuk cara berwudhu, belajar mengaji dari Juz Ammah hingga Alquran. Salah seorang napi yang menjadi santri bernama Pardianto. Lelaki 38 tahun itu sudah bisa melupakan rumah, tanah dan segala perlengkapan rumah yang ludes demi memenuhi butiran kristal bernama sabu-sabu itu. Dan lajang sulung dari enam bersaudara ini juga sudah bisa melupakan tentang penyesalannya tak bisa menyekolahkan adik-adiknya hingga tuntas lantaran sabu-sabu. ‘’Sekarang saya sudah pasrah. Sebab saya sudah menemukan dunia saya yang baru di sini. Batin saya tenang. Kelak jika saya sudah selesai menjalani hukuman, saya akan berwiraswasta dan kemudian mencari pendamping hidup. Mudah-mudahan jodoh saya masih ada,’’ kata Pandrianto terbata-bata dalam sebuah obrolan santai di Masjid At-Taubah yang ada di dalam komplek Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Bangkinang itu Jumat (4/4). Mantan pekerja sebuah developer di Pekanbaru ini ditemani oleh sejumlah narapidana lain, termasuk Kepala Lapas Agus Pritiatno. Kisah perjalanan mantan anggota Batalyon 132 Kopral Satu (Koptu) Jon Indra hingga menjadi penghuni Lapas Bangkinang juga tak kalah menarik. Selain menjadi bandar, lelaki 44 tahun ini juga pecandu narkotika. Gara-gara candu inilah kemudian ayah satu anak ini mesti menjalani peradilan militer di Padang Sumatera Barat. Pangkat Koptunya dicopot, dan dia kemudian mesti menjalani hukuman 7 tahun 3 bulan penjara. ‘’Di Lapas ini, ada 55 dari 580 orang narapidana yang sudah menjadi santri. Dari semua santri itu, 30 orang diantaranya adalah mantan pecandu narkoba,’’ terang Agus. Perhatian Bupati Kampar Jefry Noer terhadap para penghuni Lapas itulah kata Agus yang menjadi cikal bakal Lapas itu mendapat sebutan Pesantren. Jefry Noer sendiri menyebut Rumah Keselamatan.(adv/a) Sumber : riaupos.co

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0