Harapan Seorang Napi: Kalau Keluar, Saya Ingin Usaha Celengan Duren

TRIBUNJATENG.COM, solo - Suara semburan las dan gesekan amplas terdengar di bengkel kreatif warga binaan Rutan Kelas I Solo, Selasa (1/7/2014) siang. Belasan warga binaan mengasah kemampuan membuat kerajinan berupa teralis, replika perahu layar, sangkar burung, lampion, hingga celengan durian.   Dimas Setiawan (18) tampak serius menyelesaikan celengan berbentuk durian. Beberapa kali dia mengelem duri durian yang terbuat dari kardus. Warga Baki, Sukoharjo tersebut harus mendekam di rutan selama tiga tahun karena tersangkut kasus melarikan anak orang sehingga terjerat Undang-Undang Perlindungan Anak.   Awalnya, Dimas tidak memiliki ketrampilan membuat celengan durian. Dirinya merasa tertarik bergabung di bengkel pembinaan agar mempunyai bekal ketrampilan kelak dimas keluar dari rutan. “Saya sudah sembilan bulan di sini. Awalnya tidak punya keahlian apa-apa, baru bergabung di sini saya bisa membuat kerajinan celengan durian. Diajari sam
Harapan Seorang Napi: Kalau Keluar, Saya Ingin Usaha Celengan Duren

TRIBUNJATENG.COM, solo - Suara semburan las dan gesekan amplas terdengar di bengkel kreatif warga binaan Rutan Kelas I Solo, Selasa (1/7/2014) siang. Belasan warga binaan mengasah kemampuan membuat kerajinan berupa teralis, replika perahu layar, sangkar burung, lampion, hingga celengan durian.   Dimas Setiawan (18) tampak serius menyelesaikan celengan berbentuk durian. Beberapa kali dia mengelem duri durian yang terbuat dari kardus. Warga Baki, Sukoharjo tersebut harus mendekam di rutan selama tiga tahun karena tersangkut kasus melarikan anak orang sehingga terjerat Undang-Undang Perlindungan Anak.   Awalnya, Dimas tidak memiliki ketrampilan membuat celengan durian. Dirinya merasa tertarik bergabung di bengkel pembinaan agar mempunyai bekal ketrampilan kelak dimas keluar dari rutan. “Saya sudah sembilan bulan di sini. Awalnya tidak punya keahlian apa-apa, baru bergabung di sini saya bisa membuat kerajinan celengan durian. Diajari sama teman yang sudah lama di sini. Awalnya lihat cara membuat, kemudian praktik, dan akhirnya bisa membuat. Ini sangat membantu saya. Kalau keluar dari sini, saya ingin mengembangkan usaha celengan durian,” ujarnya.   Celengan durian bisa diselesaikan Dimas dalam waktu dua hari. Untuk membuat bulatan durian, sebuah balon ditempeli remahan kardus bekas yang kemudian dijemur. Setelah kering, balon dikempeskan dan tercipta bulatan durian. “Setelah membuat bulatan durian, kemudian membuat duri durian dari lembaran kardus yang dilem di bulatan durian. Ini yang paling rumit dan harus telaten,” ujarnya.   Saat ini pihak rutan belum mengembangkan celengan berbentuk buah lain. “Saat ini masih fokus bentuk durian karena banyak peminatnya,” kata Dimas.   Selain membuat celengan durian, bengkel kreatif juga memberi ketrampilan membuat teralis, sablon, sangkar burung, lampion, dan replika perahu layar. Kasi Pelayanan Tahanan, Edy Susetyo mengatakan keberadaan warga binaan di bengkel kreatif untuk memberi bekal ketrampilan ketika mereka habis masa tahanan. “Agar mereka ketika kembali ke masyarakat agar bisa menjadi orang berguna baik untuk diri sendiri atau masyarakat. Ketika keluar mereka sudah punya bekal dan bisa mandiri mengembangkan ketrampilan yang didapat selama di rutan,” ujarnya.   Syarat warga binaan masuk ke bengkel kreatif, kata Edy, yakni sudah menjalani 1/3 hingga ½ masa tahanan dan mempunyai kemauan beraktivitas di bengkel kreatif. “Tanpa kemauan dari mereka sendiri ya mereka tidak ada di sini. Kami tidak bisa memaksa,” ujarnya.   Saat ini ada 13 warga binaan yang ikut aktif di bengkel kreatif. Mereka bekerja mulai pukul 07.30 hingga pukul 13.30 untuk mengerjakan dengan berbagai ketrampilan. “Mereka bisa membuat sangkar burung dalam dua hari, sedangkan kalau bikin replika kapar layar sampai seminggu karena cukup rumit. Ada koordinator di sini, kemudian yang lain membantu. Selain membuat kerajinan mereka juga bisa sablon dan mencukur rambut,” kata Edy.   Produk-produk yang dihasilkan, lanjut Edy, dijual ke luar rutan. Hasil penjualan, warga binaan yang mengerjakan bisa mendapatkan premi, sedangkan sisanya masuk ke kas negara dan untuk operasional.   “Replika perahu dijual dengan harga kisaran Rp 100-200 ribu, sangkar burung dijual sekitar Rp 50 ribu, sedangkan celengan durian kisaran Rp 25-40 ribu tergantung ukuran. Harga disesuaikan dengan pasar, kalau beli langsung di sini lebih murah,” ujarnya. (*)   Sumber : jateng.tribunnews.com

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0