Kalapas Ini Sempat Rasakan Minum Dijatah

Samarinda - Lulus Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) pada 1980, Imam Setya Gunawan mencoba mengadu nasib ke Jakarta dari kampung halamannya, Purwekerto. Di Jakarta, dia tinggal di rumah sang paman. Setiap hari, Imam membuat surat lamaran ke berbagai perusahaan. Namun, hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Sembari menunggu panggilan, Imam mengisi waktu luang menjadi tukang bangunan. Tak heran, jika bangunan lapas ada yang bermasalah, dia tahu cara membenahinya. “Pas saya lagi bikin plafon, Pakde (paman) saya bilang, ada pendaftaran AKIP. Kalau lulus, pasti kerja dan bersifat ikatan dinas. Coba kamu daftar. Akhirnya saya daftar,” kenang pria yang kini menjabat kepala Lapas Klas II A Samarinda itu. Pada awal mendaftar, dia tidak lolos. Kegiatan menjadi tukang pun kembali dia lakoni. Setahun berselang, pamannya menyuruh dia mendaftar ke AKIP daripada seharian merenovasi rumah. Saat itu adalah hari terakhir pendaftaran. Imam pun bergegas. Dia tidak berharap ba

Kalapas Ini Sempat Rasakan Minum Dijatah
Samarinda - Lulus Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) pada 1980, Imam Setya Gunawan mencoba mengadu nasib ke Jakarta dari kampung halamannya, Purwekerto. Di Jakarta, dia tinggal di rumah sang paman. Setiap hari, Imam membuat surat lamaran ke berbagai perusahaan. Namun, hasilnya tidak sesuai ekspektasi. Sembari menunggu panggilan, Imam mengisi waktu luang menjadi tukang bangunan. Tak heran, jika bangunan lapas ada yang bermasalah, dia tahu cara membenahinya. “Pas saya lagi bikin plafon, Pakde (paman) saya bilang, ada pendaftaran AKIP. Kalau lulus, pasti kerja dan bersifat ikatan dinas. Coba kamu daftar. Akhirnya saya daftar,” kenang pria yang kini menjabat kepala Lapas Klas II A Samarinda itu. Pada awal mendaftar, dia tidak lolos. Kegiatan menjadi tukang pun kembali dia lakoni. Setahun berselang, pamannya menyuruh dia mendaftar ke AKIP daripada seharian merenovasi rumah. Saat itu adalah hari terakhir pendaftaran. Imam pun bergegas. Dia tidak berharap banyak pada pendaftaran kedua tersebut. Setelah melewati serangkaian tes, beberapa hari kemudian tukang pos datang membawa surat dari AKIP yang meminta dirinya untuk mendaftar ulang. Akhirnya, Imam menjalani pendidikan selama tiga tahun dan lulus pada 1984. Dia langsung ditempatkan di Selong, Nusa Tenggara Barat (NTB). “Pertama ditugaskan, saya langsung cari peta. Dengar nama daerahnya saja baru pertama kali itu,” kisahnya. Perjalanan menuju tempat tugasnya dari kediamannya di Purwokerto, butuh waktu dua hari dua malam via darat. Sebab, saat itu pesawat tidak memungkinkan. Empat tahun kemudian, Imam dipindah ke Lapas Dompu, NTB. Di sana, beradaptasi sangat terasa susah sekali. Daerah tersebut sulit air dan gersang. Bahkan, untuk minum saja harus dijatah, hanya segelas sehabis makan. Saat kemarau, warga di sana, termasuk dia, harus membuat kubangan di pinggir sungai untuk mendapatkan air yang tidak layak konsumsi. Jenis sayuran di sana sangat sedikit. Dia bisa memakan satu jenis sayuran hingga seminggu. Hal itu dijalani 13 tahun. Tak hanya itu, di sana dia mendapati narapidana yang hendak menyerang petugas dengan pasir basah yang dicampur cabai. “Upaya penyelundupan, pelarian, atau kerusuhan itu selalu ada,” imbuh Imam. Di Samarinda, tantangan Imam tak jauh dari tempat-tempat sebelumnya. Yakni, kerusuhan dan penyelundupan barang terlarang ke dalam sel. Khususnya narkoba. Razia pun terus digalakkan. Baru-baru ini, pihaknya menangkap narapidana yang ketahuan mengisap sabu. “Narkoba ini yang kami sangat antisipasi. Makanya, program di lapas banyak berkaitan dengan gerakan antinarkoba,” pungkasnya. (*/nyc/er/k8) Sumber : kaltim.prokal.co  

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0