Klien Asimilasi Melawan Stigma

Klien Asimilasi Melawan Stigma

Akhir-akhir ini sedang ramai pro dan kontra di tengah masyarakat tentang pembebasan narapidana setelah Menteri Hukum dan HAM RI mengumumkan kebijakan pengeluaran dan pembebasan narapidana melalui asimilasi di rumah dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyebaran Coronavirus disease. Pro dan kontra masyarakat tersebut merupakan hal normal sebagai dinamika dalam masyarakat dimana stigma terhadap narapidana masih melekat. Narapidana masih kerap dipandang miring. Istilah sampah masyarakat masih lekat dengan mereka yang masuk bui atas kriminal yang mereka buat.

 

Pengertian dan Penyebab Terjadinya Stigma

Menurut  Link Phelan dalam Scheid & Brown (2010) stigma adalah fenomena yang terjadi ketika seseorang diberikan labelling, stereotip, separation, dan mengalami diskriminasi, sedangkan menurut Mansyur, pengertian stigma adalah ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya.

 

Menurut Goffman (1959) terdapat beberapa penyebab terjadinya stigma:

  • Ketakutan

Ketakutan adalah penyebab umum terjadinya stigma. Kemunculan takut ini merupakan konsekuensi yang didapatkan apabila tertular, bahkan penderita itu cenderung takut terhadap konsekuensi sosial dari pengungkapan kondisi sebenarnya.

 

  • Tidak menarik

Beberapa kondisi tersebut dapat menyebabkan orang dianggap tidak menarik, terutama dalam budaya dimana keindahan lahiriah sangat dihargai. Dalam hal ini, gangguan pada anggota tubuh akan ditolak masyarakat disebabkan terlihat berbeda.

 

  • Kegelisahan

Kecacatan hal ini membuat penderita tidak nyaman. Mereka mungkin tidak tahu bagaimana berperilaku di hadapan orang. Dengan kondisi yang dialaminya sehingga lebih cenderung menghindar.

 

  • Asosiasi

Stigma oleh asosiasi dikenal sebagai stigma simbolik. Hal tersebut terjadi pada saat kondisi kesehatan dikaitkan dengan kondisi yang tidak menyenangkan, seperti pekerja seks komersial, pengguna narkoba, orientasi seksual tertentu, kemiskinan, atau kehilangan pekerjaan. Nilai serta keyakinan dapat memainkan peran yang kuat dalam menciptakan atau mempertahankan stigma.

 

  • Kebijakan atau undang-undang

Hal ini biasa terlihat pada saat penderita dirawat di tempat terpisah serta memerlukan waktu yang khusus dari rumah sakit, seperti klinik sakit jiwa, klinik penyakit seksual menular, atau klinik rehabilitasi ketergantungan obat.

 

  • Kurangnya kerahasiaan

Pengungkapan yang tidak diinginkan dari kondisi seseorang dapat disebabkan cara penanganan hasil tes yang sengaja dilakukan tenaga kesehatan. Hal ini mungkin benar-benar tidak diinginkan seperti pengiriman dari pengingat surat atau kunjungan pekerja kesehatan di kendaraan ditandai dengan pro logo gram.

 

 

Melawan Stigma Dengan Mendirikan Usaha

MT adalah klien asimilasi pada Balai Pemasyarakatan Kelas II Palu. Sebelumnya, MT adalah narapidana yang mendapatkan vonis penjara selama dua tahun karena terbukti melakukan penggelapan di sebuah perusahaan saat ia bekerja di perusahaan tersebut. MT sangat bersyukur mendapatkan kesempatan menerima program asimilasi di rumah sehingga ia bisa berkumpul kembali bersama keluarga.

Belajar dari masa lalunya sebagai mantan narapidana, keberadaannya tak mudah diterima masyarakat meski ia telah bertaubat. Status mantan narapidana yang pernah melekat pada dirinya menjadi penghalang terbesar untuk berkarya dan melakukan sesuatu yang positif di tengah masyarakat. Meski demikian, ia tak pernah menyerah..

Sejak keluar dari Rumah Tahanan Negara Palu melalui program asimilasi tanggal 3 April 2020, MT bertekad untuk berubah dan mulai menata hidupnya kembali. Ia pun berkomitmen untuk membuka usaha. Berbekal keahlian yang dimilikinya, yaitu memperbaiki perangkat handphone, MT pelan-pelan membuka service handphone di rumahnya.

MT memasarkan jasanya melalui media sosial, seperti Facebook. Terbukti dalam waktu kurang dari sebulan membuka usaha service, MT sudah mendapatkan banyak permintaan service handphone. Tak hanya itu, berkat kegigihan yang dimilikinya, MT banyak mendapat permintaan service handphone dari kios seluler yang ada di Kota Palu.

MT dibantu seorang rekan dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dalam satu minggu, permintaan service handphone yang diterima MT bisa mencapai 10 buah. Kepuasan pelanggan menjadi hal yang sangat penting bagi MT sehingga ia selalu mengerjakan permintaan service handphone dengan penuh rasa tanggung jawab.

MT berharap usaha yang ia lakukan bisa semakin berkembang dan stigma narapidana pada dirinya bisa hilang seiring berjalannya waktuSeperti kisah MT, kita bisa memetik hikmah yang ada. Tak selamanya manusia larut dalam kejahatan. Suatu saat, ia pasti bisa berubah menjadi lebih baik.

 

 

 

Penulis: Mudrik Istikom (PK Bapas Palu)

What's Your Reaction?

like
12
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0