Lapas Pekanbaru Tingkatkan Kewaspadaan AIDS

PEKANBARU (EKSPOSnews): Kepala Lembaga Pemasyarakatan Anak dan Wanita Pekanbaru, Riau, Agus Pritiatno mengatakan, pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan HIV/AIDS di dalam Lapas pascameninggalnya Nng (38), narapidana kasus perdagangan narkoba lintas negara akibat penyakit itu. "Ada program konseling yang kami lakukan secara rutin terhadap warga binaan selama ini, sebagai langkah awal untuk mendapatkan gambaran pasti jumlah penderita AIDS disini," kata Agus, Rabu 8 Februari 2012. Hal itu dilakukan karena sejauh ini pihak Lapas belum memiliki data pasti narapidana penderita HIV/AIDS sehingga masih diperlukan berbagai uji kesehatan. Konseling, kata Agus, adalah upaya awal untuk membuat warga binaan terbuka akan masa lalunya dan pada gilirannya akan melakukan tes dengan suka rela, untuk mendapatkan gambaran pasti jumlah penderita AIDS di Lapas. Seperti diberitakan sebelum

Lapas Pekanbaru Tingkatkan Kewaspadaan AIDS
PEKANBARU (EKSPOSnews): Kepala Lembaga Pemasyarakatan Anak dan Wanita Pekanbaru, Riau, Agus Pritiatno mengatakan, pihaknya akan meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan HIV/AIDS di dalam Lapas pascameninggalnya Nng (38), narapidana kasus perdagangan narkoba lintas negara akibat penyakit itu. "Ada program konseling yang kami lakukan secara rutin terhadap warga binaan selama ini, sebagai langkah awal untuk mendapatkan gambaran pasti jumlah penderita AIDS disini," kata Agus, Rabu 8 Februari 2012. Hal itu dilakukan karena sejauh ini pihak Lapas belum memiliki data pasti narapidana penderita HIV/AIDS sehingga masih diperlukan berbagai uji kesehatan. Konseling, kata Agus, adalah upaya awal untuk membuat warga binaan terbuka akan masa lalunya dan pada gilirannya akan melakukan tes dengan suka rela, untuk mendapatkan gambaran pasti jumlah penderita AIDS di Lapas. Seperti diberitakan sebelumnya, Lapas Anak dan Wanita Pekanbaru adalah tempat meninggalnya Nng akibat menderita pembengkakan organ hati menyusul menurunnya kekebalan tubuh karena menderita AIDS. Hal itu membuat pihak Lapas berjaga-jaga kemungkinan terjadi penularan antarsesama warga binaan. "Kami tidak yakin ada penularan di dalam, tetapi segala kemungkinan bisa terjadi, makanya bersama pihak terkait, kami berupaya mendorong warga untuk mau melakukan tes VCT," ungkap Agus. Cara yang ditempuh Lapas Anak dan Wanita Pekanbaru, kata Agus, adalah melakukan intesifikasi psikolog pendamping yang ada di Lapas untuk menciptakan kedekatan dan memancing kesadaran pengungkapan diri warga binaan. Menurut Agus, setelah terbangun kedekatan dan kesadaran di antara warga binaan, mereka akan melakukan VCT atau 'Voluntary Counseling and Testing' atau tes HIV, yang pada gilirannya diharapkan data pasti penderita bisa didapatkan. "VCT itu tidak dapat dilakukan dengan pemaksaan, harus sukarela dan keterbukaan warga binaan sangat dibutuhkan," kata Agus. VCT sangat diperlukan untuk mendapatkan data pasti penderita HIV/AIDS di Lapas, karena seperti diduga banyak pihak, kehidupan di dalam Lapas kerap kali menyimpan prilaku seksual menyimpang penghuninya. Psikolog Lapas Anak dan Wanita Pekanbaru, Sunu Istiqomah Danu kepada ANTARA menuturkan, pihaknya selama ini menjalankan prosedur perondaan keliling sel setiap malam dan jika didapati ada warga binaan yang belum tidur pada jam 12 malam, akan diajak bicara dan kemudian diberikan konseling. "Karena asumsinya ketika warga belum tidur pada tengah malam, diduga itu karena sedang ada masalah," kata Danu. Tak hanya sebatas konseling, Lapas juga menerapkan prosedur tes psikologis atau psikotes bagi narapidana yang baru masuk, terutama pada mereka yang telah beberapa kali menjalani masa hukuman. "Psikotes terhadap penghuni baru, terutama yang berstatus residivis dilakukan untuk mendalami indikator-indikator penyimpangan sejak dini," kata Danu. Latar belakang kejiwaan warga binaan menjadi data penting, menurut Danu, karena dari data tersebut, Lapas dapat melakukan antisipasi, jika warga baru tersebut ternyata memiliki kecenderungan prilaku menyimpang. "Kecenderungan prilaku menyimpang seksual, misalnya, jika kita ketahui dari awal, dapat dilakukan langkah antisipasi," kata Danu. Dengan berbagai upaya pendekatan dan peningkatan aktivitas penghuni Lapas, diharapkan warga binaan sehat secara fisik dan mental dan terhindar dari penyebaran penyakit akibat perilaku menyimpang, demikian Danu.(antara)
 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0