Mengatasi Kriminalitas di Kalangan Remaja

Mengatasi Kriminalitas di Kalangan Remaja

Masa remaja sering dikenal dengan istilah masa negatif. Pada masa-masa ini seorang anak yang baru mengalami pubertas seringkali menampilkan beragam gejolak emosi, seperti menarik diri dari lingkungan internalnya yang berakibat muncul masalah, baik di rumah, sekolah, atau pertemanannya. Kenakalan remaja pada saat ini, seperti yang banyak diberitakan di pelbagai media, sudah melebihi batas sewajarnya. Banyak anak remaja sudah mengenal narkoba, free sex, tawuran pencurian, dan terlibat banyak tindakan kriminal lainnya yang menyimpang dari norma-norma sosial dan aturan hukum.

Kenakalan remaja merupakan segala perbuatan yang dilakukan remaja yang melanggar aturan yang berlaku dalam masyarakat. Meskipun begitu, fenomena kenakalan remaja adalah sesuatu yang normal apabila tidak melanggar norma yang berlaku. Ketika seseorang beranjak remaja, beberapa perubahan terjadi, baik dari segi fisik maupun psikolgis. Beberapa perubahan psikologis yang terjadi, seeprti remaja cenderung untuk resisten dengan segala peraturan yang membatasi kebebasannya. Karena perubahan itulah banyak remaja melakukan hal-hal yang dianggap melawan.

Kenakalan remaja yang berujung pada tindak kriminal sangat dipengaruhi peran orang tua. Banyak orang tua yang tidak paham bagaimana cara bersikap terhadap perubahan anaknya. Terkadang penanganan yang kurang tepat menyebabkan seorang remaja melakukan tindak krimanal. Misalnya, orang tua yang terlalu mengekang kebebasan anak tanpa memberikannya haknya. Hal ini memicu terjadinya konflik keluarga yang menyebabkan remaja mengalami depresi dan galau/resah. Munculnya tindakan berisiko ini sangat umum terjadi pada masa remaja dibandingkan pada masa-masa lain sepanjang rentang kehidupannya. Mencermati fenomena tersebut, penulis mencoba mengkaji dari pelbagai kajian dan literatur yang berkaitan dengan tindak kriminalitas yang dilakukan remaja.

 

Remaja

Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa, tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa, seperti yang dikemukan Monks (2002).

Ciri-ciri masa remaja menurut Hurlock (Soubur,2010) antara lain masa pencarian identitas. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan karena adanya anggapan stereotip budaya bahwa remaja adalah anak-anak yang tidak rapi, tidak dapat dipercaya, dan cenderung merusak menyebabkan orang dewasa harus membimbing dan mengawasi.

Kedua, masa remaja sebagai masa yang tidak realistic karena remaja melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih dalam cita-cita. Ketiga, masa remaja sebagai ambang masa dewasa karena remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan orang.

 

Pergeseran Kualitas Kenakalan Remaja

Kejadian kriminalitas semakin marak diberitakan. Masyarakat dapat melihat betapa brutalnya remaja zaman sekarang. Meningkatnya tingkat kriminal di Indonesia tidak hanya dilakukan orang dewasa, tetapi banyak juga dari kalangan para remaja. Tindakan yang dilakukan beraneka ragam dan bervariasi, namun tindakannya biasanya hanya terbatas dengan apa yang dilakukannya untuk pencarian identitas dirinya agar diakui lingkungannya jika dibandingkan dengan tindakan kriminal yang dilakukan orang dewasa yang sudah menjadi kebiasaan dan sesuatu yang disengaja.

Sebetulnya motivasi para remaja dalam tindak kriminalitas sering lebih sederhana dan mudah dipahami, misalnya pencurian yang dilakukan seorang remaja hanya untuk memberikan hadiah kepada seseorang yang disukainya untuk memberikan perhatian cintanya, kemudian keinginan untuk mendapatkan sesuatu seperti ingin mempunyai telepon genggam. Contoh lain adalah maraknya tawuran antar pelajar yang permasalahannya sepele, seperti saling ejek yang saling mempertahankan dan membanggakan kelompoknya atau bersenggolan dalam mengendarai motor. Bahkan, hanya memperebutkan sang kekasih yang berbeda sekolah. Akan tetapi, kenakalan remaja yang dilakukannya sering melebihi batas yang tak terkendali sehingga menjadikan berurusan dengan aparat penegak hukum.

 

Penyebab Remaja Melakukan Kriminalitas

Remaja melakukan melakukan kriminalitas remaja bisa disebabkan faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal). Faktor internal seperti krisis identitas, yaitu adanya perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

Faktor internal lainnya adalah kontrol diri yang lemah. Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal.” Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Faktor eksternal seperti keluarga dan perceraian orang tua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

Selain itu faktor eksternal seperti komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik menyebabkan remaja melakukan penyimpangan perilaku yang mengakibatkan tindakan criminal. Kenakalan remaja berupa tindak kriminal bisa memberikan pengaruh yang besar dalam masyarakat meskipun pengaruh mereka tidaklah diinginkan (unintended) karena dengan maraknya pemberitaan kriminalitas di kalangan remaja mendorong kita bertanya penyebab terjadinya tindakan tersebut.

 

Mengatasi Kriminalitas Pada Remaja

Dengan demikian perlu kiranya mencari langkah mengatasi kenakalan remaja, terutama pada lingkungan dalam keluarga. Berikut beberapa hal yang dapat sebagai berikut:

Pertama, mengungkap ada apa di balik kenakalan remaja. Para orangtua cenderung akan menghakimi anak remaja atas apa yang dilakukannya tanpa mengetahui ada masalah apa di baliknya. Bersikap seperti itu tidaklah adil bagi anak. Jadi, sebelum menghakimi anak yang berbuat nakal, tanya baik-baik apa yang sebenarnya terjadi.

Kedua, temukan cara menenangkan emosi pada remaja. Perubahan hormonal pada remaja akan cenderung cepat marah. Karena itu, salah satu tugas orang tua adalah mengetahui bagaimana cara untuk meredakan marah pada anak tersebut. Banyak hal yang dapat dilakukan, misalnya membiasakan mereka dengan mendengarkan musik, menulis, atau bermain game.

Perlunya peran aktif pelbagai pihak untuk mengatasi kriminilatis di kalangan remaja adalah cara yang efektif. Kolaborasi antara stakeholder sebagai upaya untuk menyalurkan energi yang berlebih pada remaja sangat diperlukan, terlebih banyak dari remaja yang kebingungan mencari penyaluran energi.

 

 

Penulis: Erina Mayasari (Bapas Baubau)

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
1
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0