Mengubah Perilaku Wargabinaan melalui Pondok Pesantren

Bandung, INFO_PAS. Suasana kelas I (Awaliyah) Pondok Pesantren Al-Hidayah Lapas Sukamiskin, agak beda dari biasanya. Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Sihabudin berkesempatan memberi ceramah kepada para Santri. Kedatangannya bukan sebagai undangan, akan tetapi bertepatan inspeksi mendadak (sidak) pada Selasa (2/10).
“Jangan pernah ada kata terlambat untuk bertaubat. Jangan pernah ada kata terlambat untuk belajar,” ujar Sihabudin.
Salah seorang narapidana yang tersangkut kasus pelanggaran Undang-undang Perlindungan anak, Budiono (52 tahun) mengakui manfaat mengikuti  program pondok pesantren ini. Saat diluar ia tidak mengenal huruf hijaiyah, apalagi hadist, dan fiqih. Demikian pula rekan senasibnya, Usman (50 tahun) yang dipidana 7 tahun ini merasakan wawasannya makin bertambah.
“Alhamdulillah, kajian ilmu yang kami peroleh, dapat sebagai sarana taubat untuk lebih memperbaiki diri,“ ujar Usma

Mengubah Perilaku Wargabinaan melalui Pondok Pesantren
Bandung, INFO_PAS. Suasana kelas I (Awaliyah) Pondok Pesantren Al-Hidayah Lapas Sukamiskin, agak beda dari biasanya. Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Sihabudin berkesempatan memberi ceramah kepada para Santri. Kedatangannya bukan sebagai undangan, akan tetapi bertepatan inspeksi mendadak (sidak) pada Selasa (2/10).
“Jangan pernah ada kata terlambat untuk bertaubat. Jangan pernah ada kata terlambat untuk belajar,” ujar Sihabudin.
Salah seorang narapidana yang tersangkut kasus pelanggaran Undang-undang Perlindungan anak, Budiono (52 tahun) mengakui manfaat mengikuti  program pondok pesantren ini. Saat diluar ia tidak mengenal huruf hijaiyah, apalagi hadist, dan fiqih. Demikian pula rekan senasibnya, Usman (50 tahun) yang dipidana 7 tahun ini merasakan wawasannya makin bertambah.
“Alhamdulillah, kajian ilmu yang kami peroleh, dapat sebagai sarana taubat untuk lebih memperbaiki diri,“ ujar Usman yang bebas tahun 2017 nanti.
Direktur Jenderal Pemasyarakatan mengharapkan kegiatan Pondok Pesantren ini tidak sekedar hanya program sesaat, tapi berkelanjutan.“Bukan sekedar gebrakan semata, yang terpenting program pembinaan yang berkelanjutan, sehingga diharapkan dapat merubah perilaku positif wargabinaan,” kata Dirjen PAS, Sihabudin kepada INFO_PAS.
Kepala Lapas klas 1 Sukamiskin,  Dewa Putu Gede, mengakui kegiatan pesantren ini sangat membantu. Perubahan mendasar terhadap perilaku narapidana yang mengikuti kegiatan pesatren. Hal tersebut bisa terlihat dari tingkah laku, sikap sopan santun dan juga cara berpakaian atau penampilan.
”Semua manusia mempunyai kesalahan apapun agamanya. Namun, intinya, mau tidak bertaubat dan memperbaiki kesalahan tersebut,”jelasnya.
Menurut Dewa, Program Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah Lapas Sukamiskin dalam pengelolaannya bekerja sama dengan Kementerian Agama.
Lebih jauh dijelaskan Ahmad Hardi, Kepala Bidang Pembinaan Narapidana dan Anak Didik Lapas Sukamiskin, bahwa program pesantren ini diselenggarakan setiap hari senin s/d kamis, mulai pukul 07.30 s/d 11.00 WIB yang terbagi dalam empat kelas belajar, yaitu kelas persiapan, kelas I (Awaliyah), Kelas II (Wustho) dan kelas III (Ulya).
Para santri yang anggotanya para narapidana Lapas Sukamiskin, dibekali ilmu baca Iqro Al-Quran, praktek sholat, hadist, aqidah akhlaq, serta fiqh. Tujuan Pesantren tidak lain untuk semakin mendekatkan para santri dengan agama dan lebih mencintai Al-Quran.
“Sejak tahun 2004, kami meluluskan sekitar 20-30 alumni setiap tahunnya. Mereka mendapatkan sertifikat dari Kementerian Agama Kota Bandung,” imbuh Hardi. (AH)

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0