Minta Dirawat Sebelum Ditembak Mati

CILACAP, SATELITPOST - Charles Patrick Edward Burrows, OMI atau yang akrab disapa Romo Carolus, pastor Paroki St. Stephanus di Cilacap, meminta agar pada eksekusi tahap II mendampingi terpidana mati yang beragama Katolik. Karena pada eksekusi tahap I dia tidak bisa mendampingi Marco Archer Cardoso terpidana mati asal Brasil. “Untuk yang esekusi sekarang belum diberitahu kapan, tapi saya sudah mengajukan surat kepada Kejaksan Negeri Cilacap untuk ditunjuk mendampingi terpidana mati beragama Katolik,” kata Romo Carolus yang keturunan Irlandia dan telah menjadi WNI sejak 1983 ini. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi seperti yang pada eksekusi tahap I, di mana Marco Archer Cardoso yang beragama Katolik tidak didampingi rohaniwan. Dia mengatakan saat itu, wakil dari Kedutaan Brasil menanyakan mengapa tidak ada pendamping rohani untuk Marco. “Mereka datang ke rumah dan menanyakan mengapa tidak ada yang bersedia mendampingi Marco. Kami memberi penjelasan bukan

Minta Dirawat Sebelum Ditembak Mati
CILACAP, SATELITPOST - Charles Patrick Edward Burrows, OMI atau yang akrab disapa Romo Carolus, pastor Paroki St. Stephanus di Cilacap, meminta agar pada eksekusi tahap II mendampingi terpidana mati yang beragama Katolik. Karena pada eksekusi tahap I dia tidak bisa mendampingi Marco Archer Cardoso terpidana mati asal Brasil. “Untuk yang esekusi sekarang belum diberitahu kapan, tapi saya sudah mengajukan surat kepada Kejaksan Negeri Cilacap untuk ditunjuk mendampingi terpidana mati beragama Katolik,” kata Romo Carolus yang keturunan Irlandia dan telah menjadi WNI sejak 1983 ini. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi seperti yang pada eksekusi tahap I, di mana Marco Archer Cardoso yang beragama Katolik tidak didampingi rohaniwan. Dia mengatakan saat itu, wakil dari Kedutaan Brasil menanyakan mengapa tidak ada pendamping rohani untuk Marco. “Mereka datang ke rumah dan menanyakan mengapa tidak ada yang bersedia mendampingi Marco. Kami memberi penjelasan bukan tidak bersedia, tetapi dari Lapas memberikan penjelasan bahwa harus ada surat dari kejaksaan dan dicari terus menerus tapi sampai waktu eksekusi tiba, tidak ada,” ujarnya. Untuk itu, pihaknya sudah meminta agar ditunjuk untuk mendampingi beberapa terpidana mati beragama Katolik pada eksekusi gelombang dua, terutama di Lapas Pasir Putih. Ada beberapa nama yang ada dalam datar Kejaksaan Agung. Satu di antaranya warga Brazil Rodrigo Gularter yang berada di Lapas Pasir Putih. Karena selama ini pun setiap Rabu ke tiga setiap bulan selalu mendatangi Lapas Pasir Putih untuk ceramah keagamaan. “Dia tegang, karena menunggu eksekusi. Kami minta Rodrigo yang kena penyakit jiwa itu, disembuhkan dulu. Baru dieksekusi,” katanya. Roma mengatakan, hasil pemeriksaan Rodrigo oleh pihak RS dan juga dari Univeritas Gajah Mada, Rodrigo dinyatakan menderita skyzofrenia. Bahkan, Rogdigo sudah kehilangan berat badanya mencapai 10 kilogram, karena tidak pernah tidur. “Dia selalu berbicara sendiri setiap malam, sehingga menganggu napi lainnya. Bakan dia berhalusinasi, seperti saat malam dia mendengar ada kucing seperti dcekik, tapi saat dicari tidak ada bangkainya. Dia juga merasa aman di Lapas Pasir Puih, tapi takut dibawa keluar,” katanya. Menurutnya, jika Rodrigo akan dieksekusi, seharusnya di sembuhkan dulu. Jangan sampai terjadi seperti Marco yang menurutnya diketahui beberapa tahun lalu sakit jiwa, karena tidak ada pemeriksaan menjelang eksekusi, dia tetap diesekusi. “Keluarga saat kemarin menjenguk meminta agar disembuhkan dulu penyakitnya,” ujarnya. Kepala Lapas pasir Putih Hendro Eka Putra mengatakan pihaknya sudah menerima surat dri RSJ Banyumas melalui faks ke lapas Pasir Putih. Tetapi bukan kewenangannya untuk menginformasikan hasil pemeriksaan itu.(ale) Sumber : satelitnews.co

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0