Penanggulangan HIV/AIDS di Lapas dapat Perhatian Internasional

37ketangkap nyabu

Jakarta, Pelita

Berbagai program pemerintah melalui Ditjen Pemasyarakatan (PAS) di Kementerian Hukum dan HAM untuk menanggulangi penyakit HIV/AIDS  di Lapas dan Rutan di seluruh Indonesia  ternyata memperoleh perhatian dunia internasional.
Rencananya hari ini, Selasa (23/10) Executive Director UNAIDS, Michel Sidibe akan mengunjungi Lap

37ketangkap nyabu

Jakarta, Pelita

Berbagai program pemerintah melalui Ditjen Pemasyarakatan (PAS) di Kementerian Hukum dan HAM untuk menanggulangi penyakit HIV/AIDS  di Lapas dan Rutan di seluruh Indonesia  ternyata memperoleh perhatian dunia internasional.
Rencananya hari ini, Selasa (23/10) Executive Director UNAIDS, Michel Sidibe akan mengunjungi Lapas Narkotika Jakarta untuk melihat secara langsung implementasi  program pengendalian HIV/AIDS komprehensif yang dilakukan Pemerintah Indonesia.
Menurut Humas Ditjen PAS Akbar Hadi Prabowo kepada Pelita, Senin (22/10) kedatangan pejabat UNAIDS tentunya merupakan bentuk apresiasi positif dari dunia internasional atas upaya pemerintah melalui Ditjen PAS untuk menanggulangi HIV/AIDS di lapas/rutan selama ini.
Dikatakan Akbar berbagai langkah memang telah dilakukan Ditjen PAS untuk menanggulangi HIV/AIDS sejak 2004.  Terakhir melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) priode 2010-2014 yang dimulai pada 2010.
“Hasilnya serangkaian pencapaian program penanggulangan HIV yang telah dilaksanakan secara signifikan melalui RAN tersebut telah berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian terkait HIV,” kata dia.
Sebelumnya, ungkap Akbar, penanggulangan HIV/AIDS di lapas/rutan telah dimulai sejak 2003. Tapi hanya bersifat ad hoc dan  cakupan programnya berskala kecil serta bergantung pendekatan individual dengan sebagian besar layanan disediakanoleh LSM.
“Baru pada 2004 Ditjen PAS membuat terobosan dengan menyusun strategi penanggulangan HIV/AIDS dan penyalahgunaan Napza di Lapas dengan menetapkan 95 lapas/rutan sebagai prioritas, “ ungkapnya.
Upaya itu, kata Akbar, ditingkatkan dengan pengembangan yang sistematis dalam upaya peningkatan cakupan program HIV komprehensif di lapas yang mulai direncanakan dan dilaksanakan pada tahun 2009.
Kemudian melalui RAN Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyalahgunaan Napza di Lapas Indonesia periode 2010-2014 yang dimulai pada Januari 2010 dengan tiga program utama.
Ketiga program utama yaitu bimbingan dan penegakkan hukum, pelayanan sosial, serta terapi rehabilitasi yang berkesinambungan, pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV/AIDS dan infeksi oportunistik serta penelitian dan pengembangan.
“Dokumen itupun jadi acuan bagi seluruh sistem pemasyarakatan,” kata Akbar yang menyebutkan dalam RAN itu Ditjen PAS menunjuk 101‐139 lapas/rutan serta 20‐25 Bapas di 20‐25 provinsi di Indonesia sebagai lapas/rutan prioritas.
Disebutkannya bahwa semua lapas/rutan dan bapas tersebut menampung 62 persen total populasi dan 94 persen warga binaan pemasyarakatan yang ditahan karena pelanggaran terkait narkotika.
Adapun program dan kegiatan yang sudah dilaksanakan dalam upaya menanggulangi HIV/AIDS meliputi program pendidikan. program klinis. bimbingan  teknis, lapas model, kemitraan dan mobilisasi sumber daya serta monitoring dan evaluasi HIV.
Selain itu Ditjen PAS berhasil menjalankan program penanggulangan HIV  pada 165 lapas/rutan/bapas di 25 provinsi di Indonesia, pemberian informasi tentang HIV yang sudah dilakukan sebagai bagian rutin yang disampaikan kepada warga binaan baru dan mereka yang akan bebas di 142 lapas dan 23 bapas.
Kemudian layanan komprehensif terkait pendidikan mengenai HIV, metadon, tes HIV dan konseling, ART, dan kelompok dukungan yang sudah tersedia di 122 lapas dan rutan serta layanan metadon yang disediakan di 9 lapas dan rutan.
Ditambahkan Akbar bahwa  Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Kemal Siregar saat pembukaan sosialisasi getting to zero bagi para Kadivpas, Kalapas dan Karutan pada (1/10) lalu sempat memuji bahwa program penanggulangan HIV-AIDS di Lapas/Rutan terbaik di Indonesia dan diakui dunia Internasional.(did) Sumber: http://harian-pelita.pelitaonline.com/cetak/2012/10/22/penanggulangan-hivaids-di-lapas-dapat-perhatian-intenasional#.UI4a42eEw3k

 

Senin, 22 Oktober 2012  |
Jakarta, Pelita
Berbagai program pemerintah melalui Ditjen Pemasyarakatan (PAS) di Kementerian Hukum dan HAM untuk menanggulangi penyakit HIV/AIDS  di Lapas dan Rutan di seluruh Indonesia  ternyata memperoleh perhatian dunia internasional.
Rencananya hari ini, Selasa (23/10) Executive Director UNAIDS, Michel Sidibe akan mengunjungi Lapas Narkotika Jakarta untuk melihat secara langsung implementasi  program pengendalian HIV/AIDS komprehensif yang dilakukan Pemerintah Indonesia.
Menurut Humas Ditjen PAS Akbar Hadi Prabowo kepada Pelita, Senin (22/10) kedatangan pejabat UNAIDS tentunya merupakan bentuk apresiasi positif dari dunia internasional atas upaya pemerintah melalui Ditjen PAS untuk menanggulangi HIV/AIDS di lapas/rutan selama ini.
Dikatakan Akbar berbagai langkah memang telah dilakukan Ditjen PAS untuk menanggulangi HIV/AIDS sejak 2004.  Terakhir melalui Rencana Aksi Nasional (RAN) priode 2010-2014 yang dimulai pada 2010.
“Hasilnya serangkaian pencapaian program penanggulangan HIV yang telah dilaksanakan secara signifikan melalui RAN tersebut telah berhasil menurunkan angka kesakitan dan kematian terkait HIV,” kata dia.
Sebelumnya, ungkap Akbar, penanggulangan HIV/AIDS di lapas/rutan telah dimulai sejak 2003. Tapi hanya bersifat ad hoc dan  cakupan programnya berskala kecil serta bergantung pendekatan individual dengan sebagian besar layanan disediakanoleh LSM.
“Baru pada 2004 Ditjen PAS membuat terobosan dengan menyusun strategi penanggulangan HIV/AIDS dan penyalahgunaan Napza di Lapas dengan menetapkan 95 lapas/rutan sebagai prioritas, “ ungkapnya.
Upaya itu, kata Akbar, ditingkatkan dengan pengembangan yang sistematis dalam upaya peningkatan cakupan program HIV komprehensif di lapas yang mulai direncanakan dan dilaksanakan pada tahun 2009.
Kemudian melalui RAN Penanggulangan HIV/AIDS dan Penyalahgunaan Napza di Lapas Indonesia periode 2010-2014 yang dimulai pada Januari 2010 dengan tiga program utama.
Ketiga program utama yaitu bimbingan dan penegakkan hukum, pelayanan sosial, serta terapi rehabilitasi yang berkesinambungan, pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV/AIDS dan infeksi oportunistik serta penelitian dan pengembangan.
“Dokumen itupun jadi acuan bagi seluruh sistem pemasyarakatan,” kata Akbar yang menyebutkan dalam RAN itu Ditjen PAS menunjuk 101‐139 lapas/rutan serta 20‐25 Bapas di 20‐25 provinsi di Indonesia sebagai lapas/rutan prioritas.
Disebutkannya bahwa semua lapas/rutan dan bapas tersebut menampung 62 persen total populasi dan 94 persen warga binaan pemasyarakatan yang ditahan karena pelanggaran terkait narkotika.
Adapun program dan kegiatan yang sudah dilaksanakan dalam upaya menanggulangi HIV/AIDS meliputi program pendidikan. program klinis. bimbingan  teknis, lapas model, kemitraan dan mobilisasi sumber daya serta monitoring dan evaluasi HIV.
Selain itu Ditjen PAS berhasil menjalankan program penanggulangan HIV  pada 165 lapas/rutan/bapas di 25 provinsi di Indonesia, pemberian informasi tentang HIV yang sudah dilakukan sebagai bagian rutin yang disampaikan kepada warga binaan baru dan mereka yang akan bebas di 142 lapas dan 23 bapas.
Kemudian layanan komprehensif terkait pendidikan mengenai HIV, metadon, tes HIV dan konseling, ART, dan kelompok dukungan yang sudah tersedia di 122 lapas dan rutan serta layanan metadon yang disediakan di 9 lapas dan rutan.
Ditambahkan Akbar bahwa  Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Kemal Siregar saat pembukaan sosialisasi getting to zero bagi para Kadivpas, Kalapas dan Karutan pada (1/10) lalu sempat memuji bahwa program penanggulangan HIV-AIDS di Lapas/Rutan terbaik di Indonesia dan diakui dunia Internasional.(did) Sumber: http://harian-pelita.pelitaonline.com/cetak/2012/10/22/penanggulangan-hivaids-di-lapas-dapat-perhatian-intenasional#.UI4a42eEw3k
 

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0