Petugas Lapas Pun Menangis

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Gebrakan awal dilakukan Satuan Tugas Keamanan dan Ketertiban Kementerian Hukum dan HAM (Satgas Kamtib Kemenkum HAM) Kalsel. Mereka menemukan banyak pelanggaran dan benda terlarang saat merazia Lapas Kelas II A Martapura dan Lapas Narkotika Karangintan, Banjar. Bukan tidak mungkin, di lapas lain, kondisi serupa juga terjadi. Menyikapi itu, Ketua Satgas Priyadi meminta seluruh kepala Lapas (Kalapas) di Kalsel benar-benar meningkatkan kehati-hatian dan kewaspadaannya. Jika kecolongan, Kemenkum HAM tidak segan-segan mencopot mereka. “Meski memang kondisinya serbakurang, tetapi Kalapas harus benar-benar hati-hati. Jangan ada kesalahan yang ditoleransi. Bila sejak awal sudah rusak maka ke depannya rusak terus. Soal registrasi, kunci sel, harus teliti. Bila nekat melanggar, kami ganti,” tegas Priyadi yang juga menjabat kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkum HAM Kalsel itu, kemarin. Sebagaimana diwartakan BPost edisi kemarin, Kamis (10/1) mal

Petugas Lapas Pun Menangis
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Gebrakan awal dilakukan Satuan Tugas Keamanan dan Ketertiban Kementerian Hukum dan HAM (Satgas Kamtib Kemenkum HAM) Kalsel. Mereka menemukan banyak pelanggaran dan benda terlarang saat merazia Lapas Kelas II A Martapura dan Lapas Narkotika Karangintan, Banjar. Bukan tidak mungkin, di lapas lain, kondisi serupa juga terjadi. Menyikapi itu, Ketua Satgas Priyadi meminta seluruh kepala Lapas (Kalapas) di Kalsel benar-benar meningkatkan kehati-hatian dan kewaspadaannya. Jika kecolongan, Kemenkum HAM tidak segan-segan mencopot mereka. “Meski memang kondisinya serbakurang, tetapi Kalapas harus benar-benar hati-hati. Jangan ada kesalahan yang ditoleransi. Bila sejak awal sudah rusak maka ke depannya rusak terus. Soal registrasi, kunci sel, harus teliti. Bila nekat melanggar, kami ganti,” tegas Priyadi yang juga menjabat kepala Divisi Pemasyarakatan Kemenkum HAM Kalsel itu, kemarin. Sebagaimana diwartakan BPost edisi kemarin, Kamis (10/1) malam, Satgas yang beranggotakan petugas gabungan dari Lapas di Banjarmasin, Banjar dan Tanahlaut merazia dua lapas di Banjar. Hasilnya, selain menemukan pelanggaran tata tertib juga menyita banyak benda terlarang seperti ponsel, uang, perhiasan, linggis, gergaji dan kayu yang ujungnya runcing di dalam sejumlah sel warga binaan (wabin). Diakui Priyadi, bisa masuknya benda-benda itu ke sel, merupakan imbas kelalaian petugas. Apalagi jumlahnya sangat tidak berimbang dengan jumlah wabin. Bahkan, di sejumlah lapas terjadi over kapasitas penghuni. “Belum lagi fasilitas yang seadanya. Pernah ada petugas lapas sampai menangis karena tidak kuat menahan beban. Tetapi itu bukan menjadi alasan untuk membenarkan kelalaian,” ujar Priyadi. Salah satu contoh over kapasitas adalah kondisi Lapas Narkotika Karangintan. Meskipun terbilang masih baru, wabin yang menghuninya sudah melebihi kapasitas. Jumlah wabin di sana sebanyak 510 orang yang tersebar di enam blok. Padahal, kapasitasnya hanya 250 orang. Akan tetapi, menurut Priyadi, lapas itu memiliki lahan untuk pengembangan lapas. “Tahun ini ada pengerjaan kembali, yakni di bagian belakang lapas. Di lahan yang masih kosong itu akan ditutup. Lain di Lapas Kotabaru misalnya. Di sana fasilitasnya lebih kacau, tata ruang bangunan sudah tidak benar, kamar-kamarnya sudah tdak muat,” kata dia. Berdasar pantauan koran ini, akses jalan menuju Lapas Karangintan cukup mulus. Akan tetapi, sejumlah petugas Lapas menilai kawasan itu rawan karena minim penerangan jalan umum. “Kami harus waspada bila malam. Cukup rawan dan gelap, terlebih di tikungan tajam,” kata seorang sipir. Kalapas Karangintan, M Hafil mengatakan jumlah petugas sebanyak 70 orang yang bekerja secara bergantian. Dari jumlah itu, tiap malam rata-rata hanya tujuh orang yang bertugas. “Dalam kondisi ini, kami masih sanggup menerima wabin baru. Sekitar 600 wabin bisa menghuni. Silahkan, kami siap menerima,” katanya. Tawaran itu langsung disikapi Kepala Lapas Teluk Dalam Banjarmasin, Edi Teguh Widodo. “Di (Lapas) Karangintan ini enak dan tertata rapi. Karena inilah desain lapas modern. Saya juga mau dan merencanakan mengirim lagi wabin dari Banjarmasin. Mungkin sekitar 100 orang,” kata ucap dia. Kondisi tidak kalah mengenaskan terjadi di Lapas Anak Kelas IIA Martapura. Sang Kalapas Agus Wiryawan mengungkapkan jumlah wabin di lapas itu mencapai 808 orang dari jumlah ideal 180 orang. Sementara jumlah petugas jaga tiap waktu kerja (sehari ada tiga waktu kerja) sebanyak 7-8 orang. “Pelaku kriminal terus masuk, tapi personel tidak ada penambahan,” tegasnya. Karena itulah, Agus menaruh harapan besar terhadap selesainya pembangunan Lapas Cempaka di Banjarbaru. “Jika itu selesai, Lapas Martapura agak longgar sedikit. Sebanyak 200 wabin bisa dipindah,” katanya. (kur/nic) Editor : Anjar Sumber : Banjarmasin Post Edisi Cetak    

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0