"Suara-Suara dari Wirogunan," Antologi Puisi Karya WBP Lapas Yogya

Jakarta – Bukan rahasia lagi bila Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menyimpan banyak potensi menakjubkan. Salah satunya ditunjukkan oleh WBP Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Yogyakarta yang mampu menghasilkan karya dari balik tembok penjara. Usai mengikuti workshop dengan pendampingan dari para sastrawan seperti Imam Budi Santoso, Budi Sarjono, dan Onas Untoro, WBP Lapas Wirogunan mampu menghasilkan karya sastra dalam bentuk antologi puisi berjudul “Suara-Suara dari Wirogunan.” Isinya bermacam tema yang sebagian besar berisi pengalaman mereka di lapas. “Saya merasa melalui puisi para WBP memiliki ruang berekspresi sehingga kegelisahan yang terpendam dapat tertuangkan dan orang lain mendengarnya,” ujar eks Kepala Lapas (Kalapas) Yogyakarta, Zaenal Arifin, yang kini menjabat Kalapas Karawang. Kumpulan puisi yang dibuat oleh para WBP Lapas Wirogunan ini diterbitkan oleh Tonggak Pustaka pada Agustus 2016. Bisa dikatakan ini ada

"Suara-Suara dari Wirogunan," Antologi Puisi Karya WBP Lapas Yogya
Jakarta – Bukan rahasia lagi bila Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menyimpan banyak potensi menakjubkan. Salah satunya ditunjukkan oleh WBP Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Yogyakarta yang mampu menghasilkan karya dari balik tembok penjara. Usai mengikuti workshop dengan pendampingan dari para sastrawan seperti Imam Budi Santoso, Budi Sarjono, dan Onas Untoro, WBP Lapas Wirogunan mampu menghasilkan karya sastra dalam bentuk antologi puisi berjudul “Suara-Suara dari Wirogunan.” Isinya bermacam tema yang sebagian besar berisi pengalaman mereka di lapas. “Saya merasa melalui puisi para WBP memiliki ruang berekspresi sehingga kegelisahan yang terpendam dapat tertuangkan dan orang lain mendengarnya,” ujar eks Kepala Lapas (Kalapas) Yogyakarta, Zaenal Arifin, yang kini menjabat Kalapas Karawang. Kumpulan puisi yang dibuat oleh para WBP Lapas Wirogunan ini diterbitkan oleh Tonggak Pustaka pada Agustus 2016. Bisa dikatakan ini adalah antologi puisi pertama yang lahir dari balik jeruji besi di Indonesia. “Saya merasa senang dan kagum kepada para WBP atas puisi-puisi yang ditulis. Ketika saya membaca puisi karya mereka, saya serasa ingin menangis. Terharu sekaligus bangga,” puji Zaenal. Imam Budhi Santosa selaku sastrawan pendamping para WBP menilai pusi bisa mengajak orang lain untuk membuka diri dan menjadi arif ketika mengapresiasi hiruk pikuk duniawi. “Saya benar-benar tak menyangka ketika menemukan sejumlah karya yang sangat berbobot untuk standar WBP Lapas Yogyakarta, misalnya karya Puji Istina yang berjudul “Lilin,” pujinya. Lain halnya dengan puisi karya WBP lainnya, Nanang Sowi Saputra, berjudul “Pertama dan Terakhir.” Puisi ini menceritakan kasus yang ia alami dan perjalanan hidupnya selama di lapas. Banyak sekali pesan moral yang disampaikan dalam “Pertama dan Terakhir” sebagai pembelajaran bagi para masyarakat agar tidak terlibat kasus yang nantinya merugikan banyak pihak. “WBP agar instropeksi diri serta menjadikannya inspirasi dan motivasi sehingga dapat berubah menjadi manusia yang lebih baik,” pesan Imam. Karya ini membuktikan bahwa penghuni lapas bukan hanya orang-orang yang melakukan tindak kriminal dan tidak memiliki jiwa kemanusiaan. Dari balik jeruji besi inilah mereka disadarkan dari segala kesalahan yang pernah mereka lakukan dimasa lalu dan berpikir secara terbuka dengan menunjukan potensi yang mereka miliki. Kalapas Yogyakarta, Suherman, berharap terbitnya buku ini mampu menginspirasi WBP lain dalam menciptakan karya-karya lainnya. “Jadilah insan yang bermanfaat. Jika belum mampu memberikan manfaat kepada orang banyak, setidaknya kita bermanfaat untuk diri sendiri,” pesan Suherman.     Penulis: Fanthry Septiana

What's Your Reaction?

like
1
dislike
0
love
1
funny
1
angry
0
sad
0
wow
0