TPP Bapas Bandung Sidangkan Klien Anak Kasus Pembunuhan

Bandung, INFO_PAS - Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Bandung melaksanakan Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP), Selasa (5/12) di aula bapas. Sidang TPP dipimpin Kepala Seksi Bimbingan Klien Dewasa (BKD), Agung Novarianto, selaku ketua sidang dan diikuti oleh pejabat struktural dari Seksi BKD dan Seksi BKA, para Pembimbing Kemasyarakatan(PK), serta 23 peserta dengan menyidangkan 18 perkara klien yang mengusulkan PB dan CMB. Dalam Sidang TPP yang rutin dilaksanakan setiap Hari Selasa ini, perkara yang menarik perhatian adalah kasus pembunuhan dengan klien anak yang ditangani oleh PK Madya, Budiana. Ia menjelaskan kasus pembunuhan klien anak yang ditanganinya dilakukan oleh anak usia 11 tahun terhadap korban yang berusia 12 tahun. Berawal pada 25 November 2017 sekitar  pukul 09.30 WIB, saat itu korban akan bermain sepakbola di lapangan belakang sekolah SMK PGRI. Tiba-tiba klien datang menantang korban untuk berkelahi. “Klien merasa kesal

TPP Bapas Bandung Sidangkan Klien Anak Kasus Pembunuhan
Bandung, INFO_PAS - Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Bandung melaksanakan Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP), Selasa (5/12) di aula bapas. Sidang TPP dipimpin Kepala Seksi Bimbingan Klien Dewasa (BKD), Agung Novarianto, selaku ketua sidang dan diikuti oleh pejabat struktural dari Seksi BKD dan Seksi BKA, para Pembimbing Kemasyarakatan(PK), serta 23 peserta dengan menyidangkan 18 perkara klien yang mengusulkan PB dan CMB. Dalam Sidang TPP yang rutin dilaksanakan setiap Hari Selasa ini, perkara yang menarik perhatian adalah kasus pembunuhan dengan klien anak yang ditangani oleh PK Madya, Budiana. Ia menjelaskan kasus pembunuhan klien anak yang ditanganinya dilakukan oleh anak usia 11 tahun terhadap korban yang berusia 12 tahun. Berawal pada 25 November 2017 sekitar  pukul 09.30 WIB, saat itu korban akan bermain sepakbola di lapangan belakang sekolah SMK PGRI. Tiba-tiba klien datang menantang korban untuk berkelahi. “Klien merasa kesal terhadap korban karena korban membunyikan knalpot sepeda motornya  berulang-ulang hingga menimbulkan suara yang bising. Korban sempat meminta maaf kepada klien, namun klien tidak menanggapi permintaan maaf korban,” urai Budiana. Selanjutnya, lanjut Budiana, klien memukul korban ke arah ulu hati sebanyak satu kali, kemudian menendang ke arah kemaluan korban. Setelah itu, klien memukul kembali korban ke arah ulu hati hingga korban pun jatuh terlentang. Dalam keadaan terlentang, korban ditekan dadanya dengan menggunakan lutut kanan dan klien juga sempat memukul bagian leher korban sebanyak tiga kali. “Klien menempelkan kepalan tangannya diatas hidung korban. Kejadian tersebut sempat dilerai oleh sdr. Kendi yang menjadi saksi. Akhirnya, klien pergi meninggalkan korban yang sudah tergeletak tidak berdaya,” tuturnya. Budiana menuturkan teman-teman korban berusaha membantu dan memberitahukan kejadian tersebut kepada pihak guru. Pihak guru juga langsung membawa korban ke Puskesmas Nambo, namun nyawa korban tidak dapat diselamatkan. “Latar belakang klien melakukan tindakan karena emosi kepada korban yang membunyikan motor terlalu keras,” ungkap Budiana. Kejadian tesrebut dilaporkan ke Kepolisian Resor Bandung. Keluarga korban, keluarga klien, serta klien dipanggil untuk menjalankan proses pemeriksaan perkara bersama PK Bapas, Peksos, Penyidik, PP2KBP3A Kabupaten Bandung, klien, orangtua klien, ayah korban, pihak sekolah (kepala sekolah dan wali kelas), serta tokoh masyarakat. “Kesalahan yang dilakukan oleh anak diakibatkan kelalaian dari orangtua dan lingkungannya. Klien yang orangtuanya sudah bercerai sejak berusia 4 tahun hanya diasuh oleh kakek dan neneknya sehingga tidak mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibu kandungnya hingga menjadi agresif,” terang Budiana seraya berucap ini adalah bentuk dari perilaku anak untuk mencari perhatian dari keluarga dan lingkungannya. Setelah mendapat penjelasan, Budiana menjelaskan bahwa ayah korban menyampaikan bahwa keluarga telah mengikhlaskan dan memaafkan klien serta menganggap kejadian ini adalah takdir dari Allah SWT. PK, penyidik dan Peksos membuat keputusan merujuk pada UU SPPA bahwa klien  belum berusia 12 tahun sehingga diputuskan klien dikembalikan kepada orangtuanya (ayah, kakek, dan neneknya) untuk mewakili keluarga dengan didampingi oleh Peksos dan PP2KBP3A Kabupaten Bandung selama maksimal enam bulan dibawah pengawasan dan bimbingan Bapas Bandung.     Kontributor : Adhani Wardianti

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0